copy_938091723.png

URBANISME

mikro

Urbanisme Mikro adalah upaya yang dilakukan RRJ untuk mendalami Jakarta's other Urbanism. Kami mengidentifikasi ketahanan komunitas, keunikan neighbourhood dan kegiatan warganya yang dilakukan dalam skala mikro dan khas Jakarta.

IMG_7153.JPG

   Apa itu Urbanisme Mikro?              

Urbanisme Mikro adalah rekonseptualisasi kota dalam skala yang lebih kecil, dimana pengalaman sehari-sehari akan ruang menjadi dasar serta kerangka untuk memahami dan meningkatkan ruang itu sendiri. 

Urbanisme Mikro dapat memberikan pemahaman yang kaya dan kompleks tentang lingkungan perkotaan, dengan mendefinisikan perubahan bukan hanya secara fisik namun juga perubahan berbasis waktu, fungsi yang tumpang tindih, dan persepsi subjektif dari individu.

Penerapan sudut pandang lensa mikro-urbanisme akan mempelajari detail-detail kecil namun penting dari skala Jakarta sebagai kota yang sangat luas, sehingga hal-hal tersebut tidak akan lagi terabaikan. Dengan pendekatan tersebut, kami dapat mengidentifikasi, membuat pedoman, menyalin, hingga memberdayakan beragam strategi yang digunakan warga untuk membentuk rasa guyub dalam lingkungan lokalnya.

7

Prinsip Kunci
Urbanisme Mikro             

1

Mendefinisikan ruang berdasarkan kualitas di atas kuantitas

Ruang tidak bisa dinilai berdasarkan ukurannya saja. Seringkali, ruang yang dianggap marjinal atau bahkan terlihat tidak berlaku sesuai fungsi, bisa memiliki potensi yang tidak bisa diabaikan, terlebih lagi karena ruang publik yang inklusif tidak mudah diakses bagi sebagian besar warga kota.

2

Mencari solusi antarkepentingan yang berbeda

Tidak ada fungsi tunggal bagi ruang-ruang kota di Jakarta yang sudah terlalu padat. Pengelolaan dengan ragam fungsi merupakan solusi dari keterbatasan ruang yang menjadi dasar berhuni di kota dalam skala lokal.

3

Mengenali pentingnya waktu

Sebagai kota metropolitan, Jakarta merupakan kota yang dinamis dan selalu bergerak tak kenal waktu. Tren dan siklus dalam kota yang selalu berubah ini tentu akan memengaruhi interaksi warga terhadap ruang-ruang kota. Oleh karena itu, memahami hubungan timbal balik antar keduanya merupakan komponen penting untuk memahami bagaimana fungsi kota yang sebenarnya.

4

Mengintegrasikan informalitas

Urbanisme mikro terbentuk dari beberapa komponen yang terjadi di luar batas otoritas resmi, dimana aksi spontanitas seringkali dilakukan tanpa membuat peraturan baru. Oleh karena itu, pengambilan keputusan melalui konsensus dan kesepakatan bersama menjadi lebih populer dalam mengatasi permasalahan sosial dan ekonomi yang dialami antarwarga, dibandingkan jika harus menetapkan prosedur baru yang kaku. 

5

Mengutamakan dialog

Urbanisme mikro terjadi pada skala lokal dimana pengambilan keputusan sangat dipengaruhi oleh kepentingan dan peran setiap individu. Maka dari itu, dialog serta komunikasi dua arah antar pemangku kepentingan berperan sangat penting dalam membangun kolaborasi yang berkelanjutan bagi kota yang dibentuk berdasarkan kesepakatan, seperti Jakarta.

6

Bergerak secara organik, bekerja secara kolektif

Kesetaraan akses dalam pengambilan keputusan menjadi kunci terwujudnya lingkungan berskala kecil yang resilien. Hal ini akan mendorong partisipasi bagi setiap individu untuk mewujudkan hasil yang positif. Dengan kata lain, komunitas lokal yang berdaya dan terlibat aktif merupakan fondasi utama bagi urbanisme mikro.

7

Mengakui “subjektivitas perkotaan”

Perancangan dan pengelolaan yang terstandardisasi tidak dapat mewakilkan ragam pemahaman dan penafsiran terhadap kota yang dimiliki setiap individu. Ragam penafsiran tersebut masing-masing dipengaruhi oleh umur, gender, budaya dan latar belakang ras dan orientasi seksual hingga kondisi khusus seperti disabilitas secara fisik dan isu kesehatan mental. Urbanisme mikro hadir untuk menghargai perbedaan pengalaman berhuni tiap individu tersebut sebagai dasar pengambilan keputusan.

Read the full Urbanisme Mikro Strategic Vision  here

Jelajahi "RT " - pilot project Urbanisme Mikro  di sini