Cerita Dari #1: Ular Gaib dan Pompa Dragon Pahlawan Banjir Kampung Poncol



Pemerintah selalu bilang mau mengatasi banjir. Ya, bener, sih, tiap tahun makin atas (tinggi) air banjirnya!


Kami menghabiskan sore yang cerah di pinggir kali Mampang sambil menyeruput kopi buatan Pak Antono dan ngobrol-ngobrol santai bersama Pak Agus, Pak Rahmat, dan Mas Nasrul yang sibuk memandikan burung kicaunya. Kampung Poncol, RT 01, Kuningan Barat, Jakarta Selatan, adalah salah satu wilayah terdampak banjir pada 21 Februari 2021 silam. Menurut penuturan warga setempat, banjir tahun ini adalah yang terparah sejak 50 tahun terakhir. Terletak di dataran rendah di pertemuan dua sungai besar Jakarta, Kali Krukut dan Kali Mampang, Kampung Poncol menjadi salah satu ‘langganan’ banjir ibu kota, di mana banyak diantaranya mengakibatkan evakuasi massal dan merendam kawasan ini hingga berhari-hari.

Dulu, tahun 70-80an saya di sini, ga ada tuh namanya banjir. Iya, kan, Mat?


Secara geografis, Kampung Poncol rentan terhadap jenis banjir yang berbeda: banjir ‘lokal’ akibat hujan lebat di sekitar kawasan, maupun banjir ‘hulu’ akibat volume air di hulu yang melebihi daya tampung dan kemampuan sistem drainase yang ada. Namun, lebih dari itu, Kampung Poncol juga terjepit di tengah pembangunan masif kawasan sentral bisnis ibu kota – Mega Kuningan dan SCBD. Warga mengeluh bahwa ‘betonisasi’ yang semakin masif di sisi seberang Kampung mereka turut memperparah banjir sejak tahun 2007. Tidak hanya akibat krisis iklim dan letak geografisnya, namun banyak gedung perkantoran di sekitar kawasan tersebut yang mengalirkan air buangan hujan langsung ke sungai. Hal ini menyebabkan banjir di Kampung Poncol menjadi semakin tak terelakkan, meski warga telah melakukan upaya pencegahan secara swadaya dan bergotong royong.


Ketika bicara tentang karakter sebuah kota, maka sepertinya kita perlu melihatnya dengan mikroskop baru, dengan skala yang lebih dekat, untuk melihat detail komponen yang saling terkait satu sama lain. Salah satu komponen paling penting dan relevan: hubungan manusia dengan manusia, dan antara manusia dengan lingkungan terdekatnya. Bukan hanya dari citra udara dalam skala raksasa, namun dari mata ketika berjalan kaki di antara kepadatan bangunan, melewati jalan dan gang-gang sempit, bising kendaraan dan obrolan antar warga, hingga bau yang menyeruak dari saluran pembuangan airnya.


Dalam menghadapi banjir, warga Kampung Poncol memiliki strategi ketahanan kolektifnya tersendiri. Berbagai upaya dilakukan secara gotong royong antar warga, dari mulai pencegahan, persiapan, tanggap darurat, hingga pemulihan. Pasalnya, meski sudah menjadi ‘langganan’ banjir ibu kota, warga Kampung Poncol sulit dievakuasi dan mendapat fasilitas tanggap darurat dari Pemerintah akibat akses jalan yang sulit. Sehingga, upaya-upaya swadaya tetap harus dilakukan oleh warga setempat.


Warga Kampung Poncol sudah paham tanda-tanda banjir akan datang. Dari pengalaman warga selama puluhan tahun hidup di Kampung Poncol, muncul kepercayaan atau kearifan lokal tersendiri yang menjadi bagian dari ketahanan mereka terhadap ancaman banjir. Salah satunya adalah pertanda ‘ghoib’ dengan datangnya ular-ular dari kali ke permukiman warga yang dipercaya sebagai penanda akan datangnya banjir. Sehingga, warga punya waktu untuk bersiap dan memindahkan barang-barang mereka ke tingkat yang lebih tinggi. Warga setempat juga memiliki julukan tersendiri bagi dua sungai yang berada di kawasan tersebut: Kali Mampang sebagai Kali ‘cowok’, dan Kali Krukut sebagai Kali ‘cewek’, yang muncul dari karakteristik banjir dari masing-masing sungai tersebut. Banjir terburuk, menurut Pak Agus, muncul ketika kedua sungai tersebut ‘kawin’, dan warga pun dapat mengidentifikasi waktu-waktu kapan hal tersebut akan terjadi.



Dalam konteks banjir di Kampung Poncol, warga juga secara mikro berinisiatif untuk menanam pohon dan membuat lubang biopori di sepanjang bantaran sungai. Mengupayakan wilayah resapan air di tengah ruang mereka yang sempit, adaptasi desain yang responsif terhadap banjir, serta upaya mitigasi lainnya yang dilakukan secara bergotong royong. Misalnya, ketinggian beberapa rumah warga sudah dinaikkan hingga 1 meter sejak 20 tahun terakhir. Namun, warga paham bahwa upaya tersebut tidaklah cukup untuk mencegah datangnya banjir. Ancaman banjir bukan hanya sekadar ‘bencana tahunan’, tapi juga mengancam warga kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian mereka.


Mas Guruh merupakan generasi ketiga yang tinggal di Kampung Poncol. Ia bercerita, kakeknya dulu sempat bekerja di Museum Satria Mandala, yang kala itu masih menjadi kediaman presiden pertama RI, Ir. Soekarno. Kakeknya kini telah tiada, namun Mas Guruh masih tinggal bersama nenek, ibu, dan tantenya di kampung tersebut. “Kalo banjir, nenek saya nggak pernah mau dievakuasi ke posko. Ibaratnya, hidup mati dia maunya ya di kampung sini. Saya juga, ya karena lahir dan besar di sini, udah nyaman, lah. Ngapain cari tempat lain lagi?”


Senada dengan cerita Mas Guruh, Pak Antono juga telah menghabiskan sepanjang hidupnya di Kampung Poncol. “Saya udah 50 tahun di sini, tapi masih kelihatan muda, kan?” Ujarnya sembari tertawa dan mengantarkan kopi hangat kepada kami. Pak Antono tinggal bersama adik dan adik iparnya, Bu Ayu dan Pak Agus. Menurutnya, tidak ada tempat lain yang lebih nyaman selain kampungnya sendiri. Ia pun mendukung segala upaya untuk membuat Kampung Poncol menjadi lebih baik. “Ya, kalau mau ada normalisasi, lebarin sungai, ya saya ga masalah. Rela kita potong satu kamar itu di ujung, kan buat kepentingan bersama juga,” jawabnya ketika kami tanya soal isu normalisasi sungai.


__________________


Salah satu penyebab utama banjir Jakarta, selain karena curah air hujan tinggi dan kapasitas tanggul maupun serapan yang terbatas, adalah penurunan muka tanah yang signifikan dari tahun ke tahun akibat pengeboran air tanah secara terus menerus. Masih banyak warga Jakarta yang belum mendapat akses air bersih perpipaan, sehingga banyak dari warga yang akhirnya menggunakan pompa jet untuk mengakses air dari dalam tanah secara langsung. Jakarta akan terus tenggelam jika praktik ini terus dilakukan, sedangkan pengambilan air tanah akan terus dilakukan selama akses air bersih masih belum merata tersedia untuk warga.


Akses sumber air bersih di Jakarta masih tergolong jauh dan mahal. Belum meratanya akses air bersih perpipaan akan terus membuat warga Jakarta memompa air tanah. Penggunaan air tanah secara langsung juga seringkali tidak dibarengi dengan pengolahan dan filterisasi air, sehingga akan berdampak pada kesehatan penggunanya. Jakarta sendiri juga masih melakukan pembuangan limbah secara langsung, sehingga potensi kontaminasi menjadi lebih besar (Next Water Governance, 2020). Percepatan terselenggaranya pelayanan air bersih dapat meningkatkan akses sanitasi dan kesehatan, serta mengurangi penarikan air tanah yang dapat mengakibatkan penurunan muka tanah (land subsidence).


Mengutip Kepala Seksi Perencanaan Dinas Sumber Daya Air (DSDA) DKI Jakarta Elisabeth Tarigan pada September 2021, pemenuhan layanan air bersih Jakarta baru mencapai 64% dan belum merata di semua wilayah, terutama Jakarta Utara dan Jakarta Barat yang masih minim akses jaringan pipa. Sedangkan menurut data BPS di tahun 2019, jumlah pelanggan air bersih perpipaan pada rumah tangga di DKI Jakarta baru mencapai 739.944 Rumah Tangga. Hal ini menyebabkan warga harus mengupayakan sumur pompa, membeli air kemasan, atau bahkan menggunakan air sungai yang tercemar untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Warga Kampung Poncol, seperti banyak warga lainnya, mayoritas juga masih menggunakan pompa jet untuk mendapatkan air bersih sehari-hari. Bahkan, menurut penuturan warga, hanya tiga rumah di RT 01 Kampung Poncol yang tersambung dengan pipa sambungan rumah dari Perusahaan Air Minum (PAM) setempat.


Ketika terjadi banjir, aliran listrik terputus. Sehingga, selain gelap dan kehilangan akses telekomunikasi, warga Kampung Poncol juga tidak dapat mengakses air bersih dari pompa jet mereka. Mas Guruh bercerita, ketika banjir Februari 2021 silam, listrik padam hingga dua minggu lamanya. Selama itu pula, warga harus bertahan dengan lilin dan senter sebagai sumber penerangan. Sedangkan untuk akses air bersih di kala banjir, warga setempat memiliki pompa dragon (salah satu jenis pompa air manual yang populer sekitar tahun 1970-an). Sebelum banjir datang, menurut penuturan Mas Guruh, warga sudah tidak menggunakan pompa air manual. Namun, akibat aliran listrik yang terputus, warga akhirnya berinisiatif untuk menggunakan pompa tersebut di masa tanggap darurat. Untungnya, pompa tersebut masih berfungsi dengan baik dan dapat digunakan secara komunal oleh warga.


Jakarta, dengan skala dan keragaman aktivitas ekonominya, merupakan contoh terbaik bagaimana kota tidak semata-mata berdiri dan berjalan atas pendekatan formal, regulasi yang baku, ataupun perencanaan yang kaku. Sesuatu yang nampak sebagai kekacauan dari sudut pandang penguasa, ternyata memiliki pola dan aturan main yang khas, diselenggarakan secara mandiri oleh setiap komunitas-komunitas kecil yang menghidupi setiap jengkal ruangnya.


31 Oktober ini diperingati sebagai Hari Kota Dunia. Membawa tema “adapting cities for climate resilience” atau adaptasi kota untuk ketahanan iklim di tahun 2021, hal ini terasa sangat dekat dengan keseharian warga Kampung Poncol, maupun jutaan warga kota lainnya. Kerentanan terhadap banjir, akses air bersih, sanitasi, serta ancaman bencana lainnya menjadi tantangan bersama. Tidak hanya dibebankan kepada pemerintah, tetapi juga harus dimulai dengan inisiatif dan upaya-upaya warga secara swadaya dan bergotong royong, karena setiap daerah memiliki strategi dan cerita khas nya masing-masing.




34 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua