Cerita Gang 'Z' 2: Jalan Umum atau Jalan Warga?

Diperbarui: 19 Jul


Kota telah menjadi tempat dimana dunia yang berbeda saling berbenturan, dan di Jakarta sangat jauh berbeda, mereka hanya terpisah beberapa meter dari ruang umum. Di Karet-Setiabudi, salah satu wilayah di tengah ibukota, sejengkal jalan sempit sebagai penanda batasnya. Pada satu sisi terdapat dunia dengan menara tinggi, monumen perubahan negeri dan kekuatan modal internasional, di sisi lainnya terdapat jaringan padat dengan jalanan yang dipenuhi tanaman dan gang-gang sempit dimana suatu komunitas usaha kecil menunjukkan pertahanan dan kecerdikan yang dibutuhkan di salah satu kota terbesar di dunia.


Walaupun Jalan Komando Raya, jalan dimana komunitas ini berada, mungkin mengindikasikan suatu pembagian antara yang diformalkan secara resmi dan yang tidak, antara hal-hal global dan yang sepenuhnya menunjukkan orang Indonesia, pada kenyataannya Jalan Komando merupakan suatu tempat pertemuan yang lebih dari sekedar pertemuan biasa. Jika kota memang merupakan tempat dimana dunia yang berbeda saling berbenturan, maka disinilah ‘benturan’ itu lebih sering diartikan pertukaran niaga yang ramah daripada benturan kekuatan yang berlawanan dari dunia yang berbeda itu sendiri.


Meskipun begitu, pembangunan Jakarta yang sedang berjalan tetap memberi tekanan kepada kampung, setiap sisi kampung dibatasi oleh menara apartemen, shopping malls berkelas dan perluasan infrastruktur lalu lintas. Tantangan kota telah berkembang pesat menuntut adaptasi dan inovasi oleh warga yang sudah ada sebelumnya untuk menjaga usaha-usaha dan cara hidup mereka.


Baru-baru ini, satu tantangan muncul bagi Ibu ‘Mama’ Mia, Ketua RT 02 Karet dan komunitas wirausaha mikro yang dipimpinnya. Sebuah tantangan yang mempertanyakan kedaulatan ruang di kota yang mereka sebut sebagai rumah. Sejumlah pembangunan di sepanjang jalan ini berusaha menegaskan kepemilikan ruang perkotaan, menempatkan Jalan Komando Raya di tengah perselisihan arti/makna dan fungsi sejati ‘jalan umum’.


PKL atau Pedagang Kaki Lima, penjual keliling yang menggunakan gerobak untuk menjalankan usahanya, sering diidentifikasikan sebagai penyebab utama kemacetan Jakarta atas kecenderungan mereka memenuhi area publik. Namun demikian, PKL memainkan peran utama di kehidupan perkotaan - menjalankan model bisnis yang unik dan keahlian setempat untuk menyediakan beragam masakan segar di tempat yang paling membutuhkan (strategi lebih lengkap dapat dibaca di laporan RRJ). Setelah melayani ratusan pekerja pada proyek-proyek konstruksi, PKL kini justru terancam penggusuran dari pembangunan proyek-proyek tersebut yang sejatinya PKL dukung perwujudannya.

Meningkatkan akses kendaraan untuk proyek pembangunan dengan membersihkan jalanan dari halangan potensial tetap menjadi prioritas pihak yang berkepentingan, tapi bagaimana dengan puluhan usaha kecil yang mengandalkan tempat strategis untuk penghasilan mereka, dan bagaimana dengan pelanggannya? Pada saat makan siang kepadatan pejalan kaki meningkat secara dramatis dikarenakan ratusan pegawai kantor berhamburan ke jalan mencari makanan, minuman dan istirahat dari menara-menara ber-AC. Bagi para pedagang lokasi adalah kunci. Berada terlalu jauh dari perkantoran mungkin mengakibatkan turunnya jumlah pelanggan. Mungkin banyak dari mereka yang enggan melangkahkan kaki keluar di bawah panasnya matahari.


Bagi Mama Mia dan komunitasnya, kemungkinan atas kehilangan kesempatan bisnis strategis seperti ini menuntut tindakan cepat dan pemikiran kreatif. Beberapa minggu yang lalu mereka mendapatkan notifikasi kebijakan baru yang mengancam usahanya, pedagang-pedagangnya menyetujui sebuah solusi berpotensi - mereka akan membuatkan tempat dagang baru di dalam lingkungannya; sebuah jalan milik warga yang dikenal sebagai “Gang Z”.


Di bawah kepemimpinan Mama Mia, rencana-rencana dibikin untuk lokasi baru tersebut, sebuah gang kecil di antara tempat parkir, bahkan melibatkan relawan arsitek dalam proses desainnya. Kebijakan-kebijakan pengelolaan ruang, kebersihan dan pendaftaran pedagang-pedagang yang akan mengisi ruang tersebut. Walau kurang pas, pedagang-pedagangnya paham betul tidak ada banyak pilihan lain - menolak kebijakan proyek pembangunan besar biasanya berakhir dengan kegagalan. Lalu bagaimana usaha-usaha mereka (para pedagang) harus beradaptasi terhadap ruang baru, jauh dari persimpangan utama? Apakah masih menguntungkan? Bagaimana mereka bisa memastikan pelanggan-pelanggan lama masih bisa menemukan tempat mereka yang baru? Apkah pelanggan lama rela berjalan lebih jauh ?

Meskipun pada awalnya memberikan dukungan lisan, baru-baru ini pemerintah lokal seperti menjaga jarak dengan tidak memberikan restu tertulis bagi inisiatif para pedagang ini, suatu hal yang meresahkan Mama Mia dan komunitasnya. Mereka merasakan ironinya meninggalkan sebuah jalan umum yang ramai untuk pindah sebuah “jalan warga” yang mungkin lebih sepi, tapi selama inisiatif mereka ini terhambat, masa depan mereka menjadi kurang menentu. “Ini pilihan satu-satunya kami,” kata salah satu PKL di arisan forum komunitas kemarin pas isunya didiskusikan, “Tidak ada lain lagi.”


Mama Mia menganggap serius dengan tugas-tugasnya, dan soal-soal komunitasnya adalah prioritas dia. “Saya tidak tau harus berbuat apa!” dia bilang habis forumnya, “Kami mau tempat untuk orang sini. Kami mau nunjukin lingkungannya bisa diurusin kami sendiri; kami menjaga kebersihan dan pastikan gerobak-gerobaknya gak ditinggalin di pinggir jalan habis dagang-dagang, tapi ada aja yang mau pedagang-pedagang saya digusur. Tempat baru direncanakan kami gak gangguin lalu lintas sama sekali, jadi walau kurang pas kami paham gak ada cara lain untuk memelihara usaha-usaha kecil beroperasi.”


Saat ini ada cukup banyak ketidakpastian untuk pedagang-pedagang karet, tapi mereka percaya setidaknya ada satu orang yang bener-bener akan melakukan apapun bagi mereka. Mama Mia dan komunitasnya adalah salah satu contoh fleksibilitas, ketahanan dan koordinasi yang wajib ada untuk berhasil dengan merdeka di dalam kota yang selalu berubah, demi menjaga identitas dan cara hidup mandiri. Tidak ada yang bisa tahu apa yang akan terjadi beberapa minggu atau beberapa bulan ke depan, tapi kita bisa yakin kekuatan dunia yg berbeda akan terus membentuk sebuah sudut kecil di ibukota Indonesia.


35 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua