Cerita Gang 'Z' 1:Mama Mia!

Diperbarui: 18 Sep 2021


Penelitian tentang para penggiat ekonomi kasual (atau biasa disebut ekonomi informal seperti pedagang kaki-5, warung tegal, pedagang kopi keliling, dkk, definisi bisa lihat di kamus kosa kota) yang kami lakukan sejak tahun lalu (2016-2017) di wilayah Karet telah melahirkan laporan penelitian yang bisa kamu lihat disini.

Ternyata, kisahnya masih berlanjut, dimulai dengan temuan kami bahwa para penggiat ekonomi kasual tersebut memiliki sistem organisasi yang jelas dalam beberapa paguyuban pedagang dan warga, sesuai lokasi berdasarkan wilayah administrasi RT masing-masing.


Salah satu koordinator paguyuban yang kami temui dan ajak diskusi adalah Mama Mia, sebutan sayang dari para pedagang dan warga kepada Ibu Mia yang sekaligus menjabat sebagai Ketua RT 04, Kelurahan Karet Kuningan, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Pusat.


Berdasarkan penuturan Mama Mia, lokasi dagang yang strategis diantara perkantoran- perkantoran besar di tepi Jalan Jenderal Sudirman dan perkampungan padat Karet Kuningan merupakan potensi perekonomian yang sangat besar namun juga resiko penggusuran dan gentrifikasi lahan yang sangat tinggi.


Bahkan pada saat ini, dari 21 RT yang sebelumnya ada di wilayah RW lokal, sebanyak 3 RT yang lokasinya paling strategis telah "menghilang" menjadi gedung-gedung perkantoran dan fasilitas pendukungnya.

Hubungan antara para penggiat ekonomi kasual dengan pengelola perkantoran formal di kawasan tersebut seperti hubungan benci tapi rindu, butuh tapi tidak terlalu dianggap ada. Para pedagang sering dianggap sebagai pembuat kekacauan ruang, penyempit akses jalan dan penyebab ketidakbersihan kawasan dari sampah atau limbah sisa makanan. Benarkah seperti itu?


Lain halnya jika kita melihat hubungan antara pedagang kasual ini dengan para pegawai kantor- kantor formal tersebut, mereka lebih terlihat sebagai anggota keluarga yang saling menyayangi dan membutuhkan satu sama lain. Para pedagang menganggap para pegawai kantor sebagai konsumen setia yang memberikan penghasilan yang baik dan berkelanjutan, sedangkan para pegawai kantor menganggap pedagang kasual ini sebagai penyelamat yang menyediakan pilihan makan siang (kadang juga sarapan dan makan malam) dengan harga yang masuk akal, enak dan selalu bisa diandalkan. Hubungan simbiosis mutualisme antara pedagang dan konsumen ini seringkali terbentur oleh ketiadaan ruang aktifitas yang memadai, dikarenakan setiap jengkal tanah yang tersedia di kawasan tersebut telah dimiliki oleh pemodal-pemodal besar yang punya kepentingannya masing-masing.


Saat ini, Kampung Karet menerima dan bahkan turut mengelola ruang-ruang usaha para penggiat ekonomi kasual di Jakarta, komoditas makanan, minuman, perabot dan lain-lain yang seringkali keberadaannya tersingkir dari ruang-ruang formal kota. Lebih dari itu, komunitas Kampung Karet, melalui keberadaan koordinator-koordinator paguyuban seperti Mama Mia memberikan naungan serta struktur organisasi yang efektif dan berjalan baik, sehingga kawasan tersebut tetap menjadi ruang sosial yang aktif, positif dan memberikan penghidupan bagi banyak orang, tidak hanya bagi penduduk lokal atau pedagang sekitar, namun ribuan orang tenaga kerja formal yang selama ini menikmati manfaat dari keberadaan sektor ekonomi kasual tersebut.


Mama Mia hanyalah salah satu aktor penting dari sekian banyak komponen sosial dan ekonomi kasual yang harus ada disebuah kawasan agar kawasan tersebut layak huni, layak hidup dan berkelanjutan.


Saat ini, Mama Mia dan puluhan pedagang yang bernaung di paguyuban sedang pusing dan cemas, karena adanya ancaman penggusuran / peminggiran ruang usaha dari ruang-ruang strategis kota, atas nama pembangunan infrastruktur formal kota. Akankah siasat untuk bertahan hidup dan berusaha di tengah kota yang sedang mereka lakukan dapat berhasil? Terus ikuti liputan kami di Karet 2.0.

21 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua