Memijat Pegal Kota

Diperbarui: 18 Sep 2021


Nurjanah, akrab dipanggil Nur, tidak pernah menyangka akan terampil menjadi tukang pijat. Saat remaja, Nur sempat bercita-cita menjadi seorang ustazah. Namun ibunya meminta Nur untuk sekolah perawat. ''Pas sekolah perawat itu, saya jadi tahu anatomi dan peredaran darah,'' tuturnya. Setelah lulus, Nur bekerja di sebuah praktek akupunktur. Nur juga jualan gorengan untuk menambah penghasilan keluarga, terutama setelah punya anak pada pertengahan 2000an. Hingga pada 2013, orang-orang sekitarnya mulai merasakan bakat Nur dalam memijat.


''Awalnya, ada ibu yang suka beli gorengan saya minta tolong diurut karena keseleo. Padahal saya sama sekali gak ngerti urut waktu itu. Tapi ibu itu udah kesakitan banget, ya udah saya coba. Abis saya urut, ibu itu bilang makasih Mbak Nur, udah enakan. Sejak itu ada aja yang datang minta saya pijat,'' kenang Nur.

Salah seorang tetangganya, yang tahu teknik urut, sempat melihat cara Nur memijat. Dia pun memberi beberapa contoh untuk perbaikan. ''Dia yang bilang, Nur, tangan lu emang bakat mijet, tapi lu harus belajar cara yang bener. Orangnya emang baik, gak pelit ilmu.'' Selain belajar dari tetangganya, Nur membaca banyak buku tentang pijat refleksi hingga sekarang. Semua pengetahuan ini langsung Nur praktekkan, sehingga mampu mengidentifikasi titik-titik rawan sakit di telapak kaki pelanggan.


Nur selalu percaya bahwa rezeki sudah ada yang mengatur. Dia tidak pernah memasang tarif dalam memijat. Sejak awal menerima panggilan sebagai tukang pijat sekitar lima tahun lalu, siapa pun dia terima dengan bayaran berapa saja. ''Mau ngasih besar, ngasih kecil, semua orang sama pegal-pegal,'' kata Nur. Apalagi kalau sudah langganan, pantang buat Nur mengabaikan permintaan mereka. Baik langganan keluarga maupun anak kos. Dari mulut ke mulut, banyak yang merekomendasikan pijat Nur ke teman-teman mereka. Ada yang hanya sekali mencoba, ada yang awet menjadi langganan.


Prinsip Nur yang lain adalah siapa yang pesan duluan, pijat duluan. ''Asal ngasih tahunya nggak mepet waktu, saya pasti usahakan. Cuma, gak mungkin saya batalin orang yang udah janji duluan,'' ujar Nur. Dia juga belum tertarik untuk bergabung dengan jasa online karena lebih merasa nyaman bekerja sendiri.

Dia tidak pernah membatasi waktu pijat. Semua tergantung dari keluhan dan kondisi tiap pelanggan. Kadang ada yang dipijat sampai tiga jam. ''Saya pasti tahu kalau masih ada otot pegal atau sakit karena di jari-jari pun kerasa.'' Bagi Nur, tidak perlu minyak khusus atau pantangan dalam memijat. Yang penting adalah memulai pijat dengan doa agar aura negatif tidak menghalangi kesembuhan.

Nur bahagia dengan profesinya. ''Terutama kalau pelanggan saya sembuh, badan yang tadinya panas jadi adem setelah pijat, yang keseleo lemes lagi ototnya. Saya juga senang karena dengan pijat bisa ketemu banyak orang, ngobrol-ngobrol, gak bosan di rumah aja.''8 Namun beberapa kali mengalami rasa kecewa pun menerpanya. Misalnya ketika janji diundur atau dibatalkan dengan tiba-tiba. ''Ada yang nggak nelpon. Tahu-tahu pas saya SMS, baru orangnya minta maaf kalau dia mendadak harus pergi dan batalin.''


Jika sedang ramai order, Nur keliling pijat mulai dari jam 9 pagi hingga jam 11 malam. Hari Sabtu dan Minggu biasanya paling sibuk. ''Banyakan orang kantoran yang manggil, pada pegal badan semua terutama di leher, punggung, dan pinggang,'' tuturnya. Sehari-hari, Nur bersepeda untuk datang ke rumah atau kos pelanggan yang berada di sekitar wilayah Karet. Untuk di luar wilayah Karet, Nur meminta kesediaan pelanggan untuk menambah ongkos transportasi karena harus naik bis atau ojek. Apalagi kalau lokasi tujuan sampai ke Serpong dan BSD. Penghasilan Nur mencapai hingga tiga juta rupiah sebulan jika sedang ramai pelanggan.

Nur bersyukur karena suaminya mau bantu-bantu mengurus rumah dan anak mereka yang bungsu. Seringkali Nur hanya bertemu keduanya di pagi dan sore menjelang Magrib. Suami Nur membuka usaha warung pulsa di dekat rumah.

Sebulan dua kali, Nur menyempatkan diri mengunjungi ibunya yang tinggal di Cikarang. Sebagian penghasilannya Nur berikan untuk membantu keperluan ibu. Sebagian lagi untuk membayar sewa kontrakan di Karet sekitar 1,2 juta rupiah per bulan. ''Sisanya buat bayar sekolah dan jajan anak –anak saya, tiga orang. Yang paling kecil saja bisa habis lima puluh ribu untuk jajan sehari. Untung kakak-kakaknya sekolah di luar, yang satu di pesantren, satu lagi dengan uwanya di kampung. Jajannya gak seberapa,'' jelas Nur. Cita-cita Nur dan suaminya adalah menyekolahkan ketiga anak mereka hingga sarjana.


12 Yang menjadi tantangan bagi Nur sekarang adalah punya rumah sendiri. Nur dan suami pernah mencoba kredit di sebuah perumahan dekat rumah ibunya. Namun aplikasi mereka ditolak. '' Mereka survei warung pulsanya terus sementara penghasilan saya dari pijat keliling gak dilihat. Apalagi saya tidak punya tempat usaha khusus karena jasa pijatnya adalah keliling ke rumah-rumah. Padahal secara ekonomi, saya dan suami yakin mampu mencicil sampai lunas. Kalau begini caranya, kapan orang seperti saya bisa punya rumah sendiri?''

15 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua