Setahun Bertahan

Diperbarui: 18 Sep 2021


Tanggal 10/04/2021 adalah sebuah ulang tahun di Jakarta, tapi tidak banyak orang yang ingin merayakannya. Mengapa? Karena 10 April bertepatan dengan satu tahun sejak PSBB pertama dilaksanakan sebagai strategi pencegahan penyebaran Covid-19. Selama 12 bulan ini, kesusahan warga ibu kota tidak sedikit, baik secara kesehatan maupun ekonomi.


Pedagang informal yang berada di pusat kota merupakan salah satu yang paling terkana dampak PSBB, apalagi yang mengandalkan konsumen langganan seperti pegawai kantor yang selama periode PSBB bekerja dari rumah atau WFH. Mungkin saat ini ada yang merasa keseharian kita sudah kembali normal, kecuali pemakaian masker saat kita keluar rumah, saat ingin pergi, kemanapun. Kemarin kami sempat mampir ke RT04, Kampung Karet, untuk mencari tahu bagaimana situasi dengan Bu RT Mia dan paguyuban pedagangnya.


“Ya, gimana sih,” kata Bu Mia, seperti biasa kalo ditanya tentang tantangan-tantangannya, “Alhamdulillah, kami masih bisa dapat jualan.”


Baru setelah jumatan, di pinggir jalan Komando Raya langsung jadi ramai. Banyak orang makan atau membeli jajanan sebelum kembali ke kantor. Untuk orang yang baru datang, memang bisa berfikir bahwa situasi ini sudah seperti sebelum pandemi, tapi pedagang-pedagang lokal bisa merasakan perbedaannya.


“Emang udah kembali kantor, tapi lebih dikit yang turun beli di sini. Rata-rata masih berkurang 30% lah pendapatan kami. Ada yang lebih juga, masih separo aja.”


Selain kehilangan pendapatan, pedagang di RT04 juga terganggu operasional paguyubannya. Sebelum pandemi, Bu Mia mengadakan forum arisan bulanan untuk diskusi isu-isu yang para pedagang sedang hadapi, dan mengumpulkan uang untuk kerja bakti yang sering dilakukan.


“Selama pandemi ini forum arisan enggak ada,” kata Bu Mia lagi, “Gimana bisa kalo semua susah berkontribusi? Saya enggak enak minta uang kalo semua lagi sesusah ini.”


Apakah artinya semua kerja bakti juga dihentikan? “Enggak semua. Kami tetap bersihin jalan, untungnya sudah ambil lumpur dari drainase sebelum banjir tahun ini, tapi saya pake uang OP RT aja. Dulu kami juga rawat orang yang lagi sakit kalo enggak bisa dagang ya, tapi belum bisa begitu lagi. Saya sudah mikir kalo mau mulai lagi forum arisan ya, tapi udah mau puasa ya, jadi kayaknya mulai lagi bulan Juni aja habis lebaran.”

Kalau kondisi saat ini sudah mulai kembali normal, apakah Bu Mia takut bulan puasa akan mengganggu pemulihan untuk perdagangan di RT04?


“Ya, gimana sih,” dia jawab lagi, “Biasanya jualan bulan puasa cukup lancar ya, alhamdulillah. Tinggal aja ganti jualan. Makan siang jelas enggak ada, tapi bisa kami siapin lontong, atau minuman es untuk takjil. Nah, tapi kan tahun kemarin PSBBnya ketat banget, enggak ada sama sekali yang mau beli. Jadi nol langsung pendapatan kami di sini. Saya tau kalo tahun ini udah bisa salat tarawih lagi ya, jadi kita lihat saja gimana tahun ini.”


Tapi bukan hanya perubahan pola konsumen yang berdampak pada pedagang RT04. Harga bahan-bahan di pasar juga sudah mulai naik karena antisipasi bulan puasa.


“Minyak goreng, ayam sama sayur udah jadi lebih mahal,” bilang Bu Amina, salah satu pedagang dari paguyuban RT04, “Jadi semoga harga tidak naik lagi selama bulan puasa nanti. Alhamdulillah sekarang uang masih cukup ya, paling untuk makan sama beli bahan jualan lagi, tapi yang mau beli cuman dikit padahal harga yang lebih tinggi emang makin susah ya.”


“Apalagi kami takut juga kalo rame di sini,” lanjutkan Bu Mia, “Karena ini jalan besar, kan. Kami langsung di depan kantor-kantor itu. Kalo polisi melewat pasti pas di sini, kalo satpol-pp juga. Makanya kami takut digusur atau kena tilang. Sejak kami digusur dari sisi jalan satunya, harus masuk ke dalam unit yang kosong ini, tapi terlalu sempit ruangnya. Orang pada takut masuk, terutama kalo ada antrian. Dulu kami ngerasa beruntung bisa di jalan besar ini, tapi sekarang lebih susah dibandingkan pedagang lain yang jualan lebih dalam di kampung belakang.”


Walaupun kita hampir bisa membayangkan saat pandemi ini sudah selesai, dampak-dampaknya akan menetap jauh lebih lama. Perubahan perilaku, pola pembelian dan perekonomian sudah menjadi tantangan untuk kapasitas adaptasi warga Jakarta, tapi di RT04 mereka masih siap menghadapinya. “Yang penting sehat dulu,” bilang Bu Mia, “Supaya tetap bisa berusaha.”



17 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua